<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Digital Boedaja &#187; I&#8217;m a Moslem</title>
	<atom:link href="http://ryananiestyo.com/?cat=5&#038;feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ryananiestyo.com</link>
	<description>Like sands through the hourglass. So are the Days of Our Lives</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Apr 2015 04:35:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.1.41</generator>
	<item>
		<title>Inilah Metode #mereka</title>
		<link>http://ryananiestyo.com/?p=213</link>
		<comments>http://ryananiestyo.com/?p=213#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2013 03:23:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[ryan]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[I'm a Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.digitalboedaja.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Pemirsa Blog yg budiman.. Setelah lama hiatus, sekarang mulai pengen nulis lagi. So, gw nulis dah. Tapi kali ini masih belum ngisi lagi nyawa nya. Jadi copy-paste tulisan orang dulu ya. Maaf kalo ga menyertakan sumber. Udah lupa dapat darimana. Soalnya waktu itu cuma copy-paste buru2 ke notepad. Tulisan ini mengajak kita semua melihat secara [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.digitalboedaja.com/?attachment_id=216" rel="attachment wp-att-216"><img class="aligncenter wp-image-216 size-medium" src="http://blog.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2013/02/timthumb.php_-300x198.jpg" alt="timthumb.php" width="300" height="198" /></a></p>
<p>Pemirsa Blog yg budiman..</p>
<p>Setelah lama hiatus, sekarang mulai pengen nulis lagi. So, gw nulis dah. Tapi kali ini masih belum ngisi lagi nyawa nya. Jadi copy-paste tulisan orang dulu ya. Maaf kalo ga menyertakan sumber. Udah lupa dapat darimana. Soalnya waktu itu cuma copy-paste buru2 ke notepad. Tulisan ini mengajak kita semua melihat secara global, bagaimana dan mengapa suatu nilai bisa bergeser dari dosa, lambat laun dianggap tidak dosa, mengapa sesuatu yg benar lambat laun bergeser menjadi salah (dan sebaliknya). Inilah metode yang mereka, musuh2 Islam, lakukan. Musuh2 Islam seperti kamu Yahudi, kamu liberal, sampai <a title="JIL" href="http://islamlib.com/" target="_blank">Jaringan Islam Liberal (JIL)</a> kalau di dalam negeri. Inilah metode #mereka. Credit to original writer.</p>
<p><span id="more-213"></span></p>
<blockquote>
<p style="padding-left: 30px;"><em>☆ Beginilah Mereka Menghancurkan Akhlaq Kita ☆</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><a href="http://www.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2013/02/bugur.jpg"><img class="aligncenter wp-image-230 size-medium" src="http://blog.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2013/02/bugur-300x257.jpg" alt="bugur" width="300" height="257" /></a></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>☆。★。☆。★</em><br />
<em> Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam</em><br />
<em> pendidikan Syari&#8217;at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata,</em><br />
<em> &#8220;Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah &#8220;Kapur!&#8221;,</em><br />
<em> jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah &#8220;Penghapus!&#8221;</em><br />
<em> Murid muridnya pun mengerti dan</em><br />
<em> mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata,</em><br />
<em> &#8220;Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah &#8221;Penghapus!&#8221;,</em><br />
<em> jika saya angkat penghapus, maka katakanlah &#8220;Kapur!&#8221;.</em><br />
<em> Dan permainan diulang kembali.</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><a href="http://www.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2013/02/chalk.jpg"><img class="aligncenter wp-image-232 size-medium" src="http://blog.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2013/02/chalk-300x205.jpg" alt="chalk" width="300" height="205" /></a></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat</em><br />
<em> laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>&#8220;Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil</em><br />
<em> itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal</em><br />
<em> itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya.</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.&#8221;</em><br />
<em> &#8220;Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi</em><br />
<em> suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain.</em><br />
<em> Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?&#8221; tanya Guru kepada murid-muridnya. &#8221;Paham Bu Guru&#8221;</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>&#8220;Baik permainan kedua,&#8221; Ibu Guru melanjutkan. &#8220;Bu Guru ada Qur&#8217;an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah</em><br />
<em> karpet. Quran itu &#8220;dijaga&#8221; sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet.</em><br />
<em> Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><a href="http://www.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2013/02/Koran.jpg"><img class="aligncenter wp-image-234 size-medium" src="http://blog.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2013/02/Koran-300x224.jpg" alt="Koran" width="300" height="224" /></a></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur&#8217;an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?&#8221; Murid-muridnya berpikir.</em><br />
<em> Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur&#8217;an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>&#8220;Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu</em><br />
<em> kalian akan menolaknya mentah-mentah.</em><br />
<em> Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.</em><br />
<em> Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat.</em><br />
<em> Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…&#8221;</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>&#8220;Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan,</em><br />
<em> tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian.</em><br />
<em> Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari&#8217;at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.&#8221;</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>&#8220;Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?&#8221; tanya mereka.</em><br />
<em> Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak</em><br />
<em> terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan</em><br />
<em> mari kita berdo&#8217;a dahulu sebelum pulang…&#8221;</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><a href="http://www.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2013/02/Sun.jpg"><img class="aligncenter wp-image-236 size-medium" src="http://blog.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2013/02/Sun-300x200.jpg" alt="Sun" width="300" height="200" /></a></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya. Ini semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam.</em><br />
<em> Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>&#8220;Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain</em><br />
<em> menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.&#8221;(QS. At Taubah :32).</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat</em><br />
<em> umumnya, khususnya generasi muda Muslim.</em><br />
<em> Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas</em><br />
<em> media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…???</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat diamalkan.</em><br />
<em> Silahkan TAG / SHARE.</em><br />
<em> Bagikan juga untuk teman kita.</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>☆ Semoga Bermanfaat ☆</em></p>
</blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Silakan dicopas.. Ga perlu cantumkan blog ini sebagai sumber, karena memang bukan blog ini sumber awalnya. Kalau kebetulan nemuin penulis awalnya, silakan cantumkan, dan mohon comment dibawah ya..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryananiestyo.com/?feed=rss2&#038;p=213</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaga Ga Kuat</title>
		<link>http://ryananiestyo.com/?p=196</link>
		<comments>http://ryananiestyo.com/?p=196#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 May 2012 12:43:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[ryan]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[I'm a Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[These Days]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.digitalboedaja.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Pemirsa Blog yg Budiman.. Belakangan, di negeri ini ramai sekali dibicarakan, sesosok manusia ganjil yg tidak punya sumbangsih apapun terhadap negeri ini. Namanya Lady Gaga. Rencana konser nya di Indonesia yg sudah matang dan tinggal geber langsung berantakan. Sejumlah ormas Islam mengancam menghentikan konser tersebut dengan paksa jika promotor masih nekad menyelenggarakannya. Ga ketinggalan Departemen [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/05/FPI-Gaga.jpg"><img class="aligncenter wp-image-198 size-medium" title="FPI-Gaga" src="http://blog.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/05/FPI-Gaga-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Pemirsa Blog yg Budiman..</p>
<p>Belakangan, di negeri ini ramai sekali dibicarakan, sesosok manusia ganjil yg tidak punya sumbangsih apapun terhadap negeri ini. Namanya Lady Gaga. Rencana konser nya di Indonesia yg sudah matang dan tinggal geber langsung berantakan. Sejumlah ormas Islam mengancam menghentikan konser tersebut dengan paksa jika promotor masih nekad menyelenggarakannya. Ga ketinggalan Departemen Agama dan Majelis Ulama Indonesia pun ikut menolak. Bahkan girl band Seven Icon pun jauh2 hari sudah menyatakan tidak kuat membayar mahalnya tiket konser tersebut. Tercermin dari lirik lagu mereka.. &#8220;Gaga ga kuat.. Gaga ga kuat..&#8221;</p>
<p>Banyak kalangan berpendapat, lebih baik bubarkan saja kumpulan orang di Gedung DPR itu, korupsi mereka jauh lebih berbahaya daripada Lady Gaga. Benarkah demikian? Mari kita lihat.</p>
<p><span id="more-196"></span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/05/JambanDPR.jpg"><img class="aligncenter wp-image-199 size-medium" title="JambanDPR" src="http://blog.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/05/JambanDPR-300x183.jpg" alt="" width="300" height="183" /></a></p>
<p>Benar, korupsi mereka lebih parah di banding tarian2 Lady Gaga. Tapi kalau memang Gaga tidak lebih parah, apa iya lantas penampilan dan tarian2 Gaga jadi pantas dan bisa dianggap sopan? Kita sering terjebak dengan jebakan yg ini. Kalau ada suatu kesalahan yg kita permasalahkan, tetapi ternyata ada kesalahan lain yg lebih parah yg kita tidak permasalahkan, maka kesalahan yg tidak lebih parah itu bisa diabaikan. Atau karena ada satu kesalahan berat yg dibiarkan, maka kesalahan2 lain yg lebih ringan bisa diabaikan dulu.</p>
<p>Logika macam apa ini? Sesuatu hal yg salah ya salah. Sesuatu hal yg dilarang ya dilarang. Tidak ada yg relatif.</p>
<p>Oke lah memang korupsi lebih parah daripada tarian2 Gaga. Dan ormas2 itu semua kebanyakan diam terhadap korupsi yg merajalela. Apa benar mereka benar2 diam? Mungkin saja ada suatu rencana matang untuk menghentikan korupsi2 itu. Mungkin saja mereka sudah bergerak, tapi tidak pernah diliput media. Mungkin saja korupsi2 itu benar2 sudah suatu perkara yg sangat pelik sehingga mreka hanya bisa meluruskan kesalahan2 yg selevel Lady Gaga. Berprasangka baik lah.</p>
<p>Sekali lagi, logika seperti itu gw anggap sampah.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/05/MUI.jpg"><img class="aligncenter wp-image-201 size-medium" title="MUI" src="http://blog.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/05/MUI-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Ada lagi yg aneh.</p>
<p>&#8220;Lady Gaga terlalu kecil untuk direspons MUI,&#8221; <a href="http://www.mediaindonesia.com/read/2012/05/05/322362/126/101/Pro-Kontra-Lady-Gaga-MUI-Terlibat-Terlalu-Jauh" target="_blank">kata pengamat sosial politik dari IAIN Sumut Ansari Yamamah</a>. MUI itu Majelis Ulama. Tempat kumpulnya orang2 yg hafal Al Quran, hafal Al Hadits, yg lebih paham daripada kita. Kalau mereka ada kesalahan dalam menafsirkan Al Quran atau Al Hadits ya wajarlah, jangan diolok2. Mereka aja bisa salah, apalagi kita yg ga hafal apa2? Dan mereka menetapkan hukum2 yg belum ada di Al Quran dan Al Hadits, mulai dari perkara sekecil2nya, sampai perkara besar seperti ibadah. Di Al Quran saja dibahas mengenai binatang, mengenai menyusui, mengenai jual beli, dan masih banyak lagi hal2 kecil yg dibahas di Al Quran. Di Al Hadits, bahkan dicatat Rasulullah masuk kamar mandi melangkah menggunakan kaki yg kanan atau yg kiri dulu! Masa iya MUI ga boleh merespon atau membicarakan hal2 kecil lain seperti Lady Gaga? &#8220;Jangan terlibat terlalu dalam. Nanti wibawa MUI bisa jatuh,&#8221; katanya lagi. Non Sense! Kalau MUI membicarakan Lady Gaga saja dianggap menjatuhkan Wibawa, maka kita sama saja menganggap wibawa Allah dan Rasulullah jatuh serendah2nya karena membicarakan hal2 yg jauh lebih kecil lagi.</p>
<p>&#8220;Artis dan tayangan televisi kita juga banyak yang mengajarkan pornografi. Lebih baik itu yang disoroti,&#8221; kata Ansari lagi. Ini kembali ke logika tadi diatas. Kalau artis kita yg mempertontonkan pornografi itu dibiarkan, maka Lady Gaga yg melakukan hal yg sama juga harus dibiarkan? Bukankah seharusnya semuanya harus dihentikan? Koq ini malah harus dibiarkan semua..</p>
<p>Sekali lagi pemirsa, mari kita hati2 terhadap kata2 &#8220;mendingan mana?&#8221;</p>
<p>Logika2 ini sering sekali digunakan oleh kaum liberal untuk menyesatkan kita. Pernah suatu hari saya dihadapkan pada suatu pertanyaan. Lebih baik mana? Berjilbab tapi hati nya jahat, atau tidak berjilbab tapi hatinya baik? Logika saya kontan menjawab lebih baik yg tidak berjilbab. Tapi logika itu diukur menggunakan otak. Sesuatu yg bisa dicerna otak disebut sesuatu yg logis. Berarti sesuatu yg logis itu hanya terbatas pada ukuran otak manusia saja. Sedangkan alam raya ini luasnya luar biasa. Masihkah kita mengandalkan logika semata?</p>
<p>Bonus biar seger pemirsa..</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/05/hijab.jpg"><img class="aligncenter wp-image-202 size-medium" title="Hijab" src="http://blog.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/05/hijab-300x295.jpg" alt="" width="300" height="295" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryananiestyo.com/?feed=rss2&#038;p=196</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demos Kratos</title>
		<link>http://ryananiestyo.com/?p=68</link>
		<comments>http://ryananiestyo.com/?p=68#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 09:44:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[ryan]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[I'm a Moslem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.digitalboedaja.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Pemirsa blog yang budiman.. Demokrasi bagi gw adalah lelucon saja. Ga layak dijadikan prinsip dalam hidup. Baik berbangsa dan bernegara, ataupun kehidupan pribadi. Gw bekerja di salah satu perusahaan yg cukup besar skala nya. Perusahaan yg sebenarnya bukan BUMN tapi rasanya seperti BUMN karena 100% saham nya (setidaknya sampai saat ini masih) dimiliki oleh BUMN, [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/02/NoDemocracy.jpg"><img class="aligncenter wp-image-71 size-medium" title="NoDemocracy" src="http://blog.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/02/NoDemocracy-300x212.jpg" alt="" width="300" height="212" /></a></p>
<p>Pemirsa blog yang budiman..</p>
<p>Demokrasi bagi gw adalah lelucon saja. Ga layak dijadikan prinsip dalam hidup. Baik berbangsa dan bernegara, ataupun kehidupan pribadi. Gw bekerja di salah satu perusahaan yg cukup besar skala nya. Perusahaan yg sebenarnya bukan BUMN tapi rasanya seperti BUMN karena 100% saham nya (setidaknya sampai saat ini masih) dimiliki oleh BUMN, yg mana BUMN tersebut 100% sahamnya (setidaknya sampai saat ini masih) dimiliki pemerintah saja. Hehe..</p>
<p>Beberapa waktu lalu sempat diadakan pemilu yg diikuti oleh seluruh pegawai, untuk memilih ketua Serikat Pekerja. Gw sempat berpikir. Kenapa juga General Manager, atau Direktur di perusahaan ini tidak dipilih menggunakan sistem pemilu para pegawai? Apakah anda pernah memikirkan hal yg sama? Lalu jawabnya?</p>
<p><span id="more-68"></span></p>
<p>Jawabannya udah jelas. Pemimpin yg terpilih kemungkinan bukan lah orang yg kompeten untuk menangani perusahaan ini. Tapi pemimpin yg terpilih sudah pasti orang yg sangat populer di kalangan pegawai. Demokrasi tidak akan menghasilkan orang yg kompeten. Tapi orang yg populer. Oleh karena itulah pemimpin perusahaan ini tidak ditentukan dengan sistem demokrasi. Perusahaan ini bisa gulung tikar!</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya. Kalau perusahaan saja tidak berani menerapkan sistem ini, lalu kenapa negara ini berani? Gw udah dengar berbagai jawaban. Tapi ga ada satu pun yg pas. Tetap saja, demokrasi gw anggap cuma lelucon saja.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/02/Hypocrisy.gif"><img class="aligncenter wp-image-74 size-medium" title="Hypocrisy" src="http://blog.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/02/Hypocrisy-300x218.gif" alt="" width="300" height="218" /></a></p>
<p>Berikut berbagai fakta tentang demokrasi.</p>
<ol>
<li><strong>Semua suara akan diakomodir</strong>. Benar atau salah, Orang baik atau jahat, semua didengar. Semua diakomodir. Semua punya wakil di pemerintahan. Dan undang2 atau peraturan yg dihasilkan pemerintah yg seperti ini, juga akan mengakomodir kepentingan orang baik dan orang jahat. Tergantung banyakan mana. Bayangkan jika orang jahatnya lebih banyak daripada orang baik. Sekarang mungkin belum, tapi lama-kelamaan kita akan mengarah kesana.</li>
<li><strong>Satu orang satu suara</strong>. Tampaknya sangat adil bukan? Bayangkan jika orang yg bijak punya satu suara. Orang yg baik punya satu suara. Orang pintar punya satu suara. Orang licik punya satu suara. Orang jahat punya satu suara. Orang bodoh punya satu suara. Orang munafik punya satu suara. Semua sama. Sekarang tinggal banyak2an jumlah aja. Dan bayangkan jika yg bodoh lebih banyak daripada yg pintar. Apa jadinya?</li>
<li><strong>Kesepakatan</strong>. Demokrasi mengedepankan yang namanya kesepakatan. Baik buruk, benar salah, semua adalah kesepakatan. Ketika sekelompok orang di pemerintahan berdiskusi tentang apa hukuman orang yg korupsi, maka (seperti kita tau) orang-orang yang sedang diskusi itu, yg sebagian besar koruptor itu, tentu tidak akan menjatuhkan hukuman potong tangan kepada koruptor. Padahal dalam agama gw, pencuri harus dihukum dengan potong tangan. Mereka sepakat menjatuhkan hukuman sekian tahun penjara. Itu pun akhirnya dikurangi remisi-remisi. Dan mereka bisa tenang melanjutkan aksi korupsinya.</li>
<li><strong>Suara Rakyat adalah Suara Tuhan</strong>. Ini lebih menggelikan lagi. Di beberapa negara eropa, homoseksual menikah adalah sah. Di Indonesia, (sejauh ini masih) tidak sah. Kedua negara ini sama2 menegakkan demokrasi. Lalu mengapa suara Tuhan bisa berbeda di negara2 itu dan disini?? Dan bayangkan jika dalam suatu kampung isinya laki-laki semua karena sesuatu hal. Maka di kampung itu diambil kesepakatan bahwa menikah sesama lelaki adalah sah. Benarkah itu suara Tuhan?? Setau gw Tuhan pernah membalikkan tanah dan menimpakan diatas kaum nya Nabi Luth karena praktek homoseksual..</li>
<li><strong>Musyawarah</strong>. Kelihatannya sangat bijak, musyawarah. Tapi dalam demokrasi, apalagi jika sudah menyangkut kepentingan ekonomi, mustahil musyawarah dapat dilakukan. Ujung2nya tetap pemungutan suara. Lagi2 suara terbanyak yg menang. Kalaupun musyawarah bisa dilakukan, ujung2nya juga kesepakatan tadi.</li>
</ol>
<p>Itu lah sebabnya mengapa gw beranggapan demokrasi udah basi. Ga bakalan gw terapkan demokrasi dalam keluarga gw. Bayangkan jika gw punya istri dan anak nanti. Saat gw menyuruh mereka sholat, dan mereka kompak tidak mau sholat. Apa ya gw bisa menerapkan suara terbanyak yg menang? Benarkah itu suara Tuhan? Ga masuk akal!</p>
<p>Lalu sistem seperti apa yg paling tepat dalam sebuah negara?</p>
<p>Sebenernya gw bingung jawabnya untuk pertanyaan seperti ini. Gw pengen jawab sistem kekhalifahan seperti yg dicontohkan nabi. Tapi untuk jaman sekarang sepertinya tidak mungkin. Bagaimana jika khalifah yg kita pilih bukan orang yg tepat? Lalu bagaimana cara pemilihannya? Yg jelas bukan pemilihan umum lagi ya. Hehe</p>
<p>Untuk saat sekarang, mungkin kita perlu dipimpin oleh seorang diktator. Tapi diktator syariah. Yang memimpin bukan atas kehendak pribadi nya, tapi atas dasar Al Quran dan As Sunnah. Dan tentu saja orang seperti itu harus benar2 orang yg baik akhlaknya. Syarat yg sangat sulit untuk dapat dipenuhi orang-orang jaman sekarang. Termasuk gw sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryananiestyo.com/?feed=rss2&#038;p=68</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harap Maklum</title>
		<link>http://ryananiestyo.com/?p=32</link>
		<comments>http://ryananiestyo.com/?p=32#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2012 03:18:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[ryan]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[I'm a Moslem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.digitalboedaja.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Pemirsa blog yg budiman.. Gw dulu orang yang menganggap segala sesuatu itu relatif. Tergantung dari sudut mana memandangnya. Orang yg bersalah belum tentu bersalah klo kita ambil sudut pandang dari si pelaku kesalahan. Bisa saja dia lupa, tidak sengaja, terpaksa, atau apapun lah alasannya. Sampai suatu hari.. Gw nyetir mobil (alm) bokap gw. Hujan tapi [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://blog.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/02/kebenaran-e1329714132224.jpg"><img class="alignnone wp-image-34 size-medium" title="kebenaran" src="http://blog.digitalboedaja.com/wp-content/uploads/2012/02/kebenaran-e1329714132224-300x126.jpg" alt="" width="300" height="126" /></a></p>
<p>Pemirsa blog yg budiman..</p>
<p>Gw dulu orang yang menganggap segala sesuatu itu relatif. Tergantung dari sudut mana memandangnya. Orang yg bersalah belum tentu bersalah klo kita ambil sudut pandang dari si pelaku kesalahan. Bisa saja dia lupa, tidak sengaja, terpaksa, atau apapun lah alasannya.</p>
<p>Sampai suatu hari.. Gw nyetir mobil (alm) bokap gw. Hujan tapi ga begitu deras. Disebut gerimis jg udah kegedean. Gw jalan dengan kecepatan sedang. Kebetulan lewat di jalan yg ga begitu lebar juga. Kira2 hanya 3 lebar mobil lah. Dibagi menjadi 2 bagian arah jalan. Sehingga masing2 arah cuma dapat 1,5 jalan. Lagi enak2 nyetir mendadak dari arah belakang muncul mobil dengan kecepatan tinggi, nyalip lewat sebelah kanan, dan langsung nyerobot jalur gw, memposisikan mobilnya di depan gw persis. Kontan gw kaget dan reflek ngerem. Lalu terdengar suara &#8220;BRUK!!&#8221;</p>
<p><span id="more-32"></span></p>
<p>Perasaan, gw sempat ngerem, dan ga sampe nabrak mobil depan deh..</p>
<p>Ternyata oh ternyata, ada Vespa nyeruduk bagian belakang mobil gw. Bagian belakang mobil lecet. Ada penyok dikit. Motor dia juga penyok2 bodinya. Spion patah. Tapi untung si pengemudi ga papa. Luka-luka dikit. Setelah ngobrol2 ternyata dia seorang guru SD. Lihat tampangnya, kasihan. Gw langsung berpikir dari sudut pandang dia. Berapa gajinya. Berapa tabungannya. Dan berapa yang harus dia keluarkan untuk memperbaiki motor tua nya ini? Toh kecelakaan ini juga bukan kesengajaan dia. Gw juga yg ngerem mendadak di depan dia. Rasa kasihan muncul di benak gw. Akhirnya gw suruh aja dia dtg ke rumah gw, minta ganti sama bokap gw. Secara gw blm punya duit sama sekali waktu itu. Masih sekolah.</p>
<p>Besoknya dia datang ke rumah gw untuk minta ganti rugi. Yg ngadepin waktu itu bokap gw. Dan dengan tegas bokap gw bilang ga akan gantiin motor dia atau kerugian apapun yg di derita dia. Gw kaget. Bokap gw bilang klo seharusnya dia yg gantiin kerusakan di mobil bokap gw. Kata bokap gw, dia emang ga sengaja, tapi tetep aja salah. Dan gw ga salah karena posisi gw di depan dan dia di belakang. Gw ngerem mendadak karena mobil depan gw yg nyerobot jalur. Dan dia di belakang gw. Klo dia ga bisa menguasai kendaraan nya jika terjadi sesuatu yg mendadak di depannya, kenapa juga dia ga ambil jarak yg aman? Kenapa jg dia harus nempel mobil bokap gw dengan jarak segitu? Intinya dia salah, dan gw ga salah. Dan seharusnya orang yg salah yg memberi ganti rugi pada pihak yg ga salah.</p>
<p>Tapi bokap gw ga sejahat itu. Bokap gw ga minta ganti rugi kerusakan mobilnya. Melihat keadaan si bapak yg kelihatannya ekonominya pas-pas an, bokap gw ga minta ganti. Tapi juga tetep ga mau ngegantiin. Intinya bokap gw ga mau seseorang yg salah dibilang benar. Dimaklumi ga papa. Tapi bukan dibenarkan. Dan bokap gw memaklumi kejadian itu dengan berbesar hati, yaitu ga meminta ganti rugi sama sekali. Akhirnya tu bapak2 pulang dengan tangan hampa.</p>
<p>Dari situ gw cuma melongo, memikirkan apa yg sebenarnya terjadi. Memikirkan siapa yg sebenarnya salah.</p>
<p>Agak lama gw mencoba memahami inti kejadian ini. Tapi lama2 gw paham juga. Suatu kesalahan yg tidak disengaja bukan berarti bisa dianggap benar. Tidak tau, tidak sengaja, atau apapun itu, suatu kesalahan adalah suatu kesalahan. Yang benar akan selalu benar dan yg salah akah selalu salah. Cuma bedanya, jika suatu kesalahan itu tidak disengaja, maka sudah sewajarnya dimaklumi. Sekali lagi, dimaklumi. Bukan dianggap benar.</p>
<p>Ternyata banyak kasus2 serupa terjadi di sekitar kita.</p>
<p>Penjaga pintu kereta yg ketiduran, lupa, atau apapun misalnya. Jika terjadi kecelakaan karena kealpaan nya itu, tetap saja dia yg harus dihukum. Padahal ketiduran, lupa, atau apapun itu, sifatnya sangat manusiawi sekali.  Semua orang mengalami nya. Dan tidak ada unsur kesengajaan disana. Tapi tetap saja, masinis kereta, penumpang, atau kendaraan yang lewat ga salah. Yg salah adalah si penjaga pintu kereta. Dan si penjaga pintu kereta lah yang harus menanggung akibat nya. Tapi mengingat sebab kesalahannya itu adalah hal yg sangat manusiawi, maka hukumannya biasanya diringankan. Dalam hukum pasti ada pasal tentang kelalaian yg menyebabkan suatu kecelakaan, dan ada pasal tentang kecelakaan yg disengaja. Dan hukumannya pasti beda beratnya. Kalau mau dicari masih banyak contoh-contoh lain di dunia ini.</p>
<p>Mungkin demikian juga dengan hubungan antar manusia. Lupa janjian, ketiduran, atau apapun itu. Mungkin itu sangat manusiawi. Tapi bagi orang yg sudah janjian sama kita, yg udah nunggu berjam2, apakah dia yg salah? Jawabnya sudah jelas, dia ga salah. Dan kita yg salah. Jadi minta maaf  lah. Minta dimaklumi. Jangan minta diaggap benar.</p>
<p>Dan alangkah baiknya klo kita bisa tidak menjatuhkan hukuman apapun kepada pihak yg ga salah tadi. Alangkah baiknya klo kita bisa memakluminya. Memaafkan ketidaksengajaannya.</p>
<p>Misalnya ada orang yg puasa. Trus dia lupa kalau lagi puasa. Ga sengaja minum atau makan. Apa komentar kita? &#8220;Ya udah ga papa, lanjutkan puasanya..&#8221; Perhatikan kalimat itu. Itu suatu kalimat memaafkan. Memaklumi. Bukan membenarkan. Mana ada orang yg berkomentar, &#8220;Wah itu benar! Lanjutkan puasanya!&#8221;.</p>
<p>Bagi gw pribadi, klo gw ada di posisi yg salah, gw pasti akan minta maaf pada pihak yg ga salah. Dan klo gw berada di pihak yg ga salah, gw bersedia memaklumi atau memaafkan pihak yg salah apabila kesalahan itu ga disengaja. Tapi kalau kesalahan itu diulang2 dan disengaja, lain ceritanya.</p>
<p>Tapi ada satu hal yg ga akan pernah gw lakukan. Jika orang yg salah (walaupun ga sengaja) minta dianggap benar dengan cara tidak minta maaf. OK mungkin dia ga sengaja. Tapi gw ga salah juga kan? Ga sengaja bukan berarti jadi benar. Klo pun gw ada di pihak salah walaupun ga sengaja, gw juga ingin minta dimaklumi. Tapi gw ga akan minta dianggap benar. Memaklumi bukan berarti membenarkan.</p>
<p>Itu ga sama..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ryananiestyo.com/?feed=rss2&#038;p=32</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
