Feb 19, 2012 - I'm a Moslem    2 Comments

Harap Maklum

Pemirsa blog yg budiman..

Gw dulu orang yang menganggap segala sesuatu itu relatif. Tergantung dari sudut mana memandangnya. Orang yg bersalah belum tentu bersalah klo kita ambil sudut pandang dari si pelaku kesalahan. Bisa saja dia lupa, tidak sengaja, terpaksa, atau apapun lah alasannya.

Sampai suatu hari.. Gw nyetir mobil (alm) bokap gw. Hujan tapi ga begitu deras. Disebut gerimis jg udah kegedean. Gw jalan dengan kecepatan sedang. Kebetulan lewat di jalan yg ga begitu lebar juga. Kira2 hanya 3 lebar mobil lah. Dibagi menjadi 2 bagian arah jalan. Sehingga masing2 arah cuma dapat 1,5 jalan. Lagi enak2 nyetir mendadak dari arah belakang muncul mobil dengan kecepatan tinggi, nyalip lewat sebelah kanan, dan langsung nyerobot jalur gw, memposisikan mobilnya di depan gw persis. Kontan gw kaget dan reflek ngerem. Lalu terdengar suara “BRUK!!”

Perasaan, gw sempat ngerem, dan ga sampe nabrak mobil depan deh..

Ternyata oh ternyata, ada Vespa nyeruduk bagian belakang mobil gw. Bagian belakang mobil lecet. Ada penyok dikit. Motor dia juga penyok2 bodinya. Spion patah. Tapi untung si pengemudi ga papa. Luka-luka dikit. Setelah ngobrol2 ternyata dia seorang guru SD. Lihat tampangnya, kasihan. Gw langsung berpikir dari sudut pandang dia. Berapa gajinya. Berapa tabungannya. Dan berapa yang harus dia keluarkan untuk memperbaiki motor tua nya ini? Toh kecelakaan ini juga bukan kesengajaan dia. Gw juga yg ngerem mendadak di depan dia. Rasa kasihan muncul di benak gw. Akhirnya gw suruh aja dia dtg ke rumah gw, minta ganti sama bokap gw. Secara gw blm punya duit sama sekali waktu itu. Masih sekolah.

Besoknya dia datang ke rumah gw untuk minta ganti rugi. Yg ngadepin waktu itu bokap gw. Dan dengan tegas bokap gw bilang ga akan gantiin motor dia atau kerugian apapun yg di derita dia. Gw kaget. Bokap gw bilang klo seharusnya dia yg gantiin kerusakan di mobil bokap gw. Kata bokap gw, dia emang ga sengaja, tapi tetep aja salah. Dan gw ga salah karena posisi gw di depan dan dia di belakang. Gw ngerem mendadak karena mobil depan gw yg nyerobot jalur. Dan dia di belakang gw. Klo dia ga bisa menguasai kendaraan nya jika terjadi sesuatu yg mendadak di depannya, kenapa juga dia ga ambil jarak yg aman? Kenapa jg dia harus nempel mobil bokap gw dengan jarak segitu? Intinya dia salah, dan gw ga salah. Dan seharusnya orang yg salah yg memberi ganti rugi pada pihak yg ga salah.

Tapi bokap gw ga sejahat itu. Bokap gw ga minta ganti rugi kerusakan mobilnya. Melihat keadaan si bapak yg kelihatannya ekonominya pas-pas an, bokap gw ga minta ganti. Tapi juga tetep ga mau ngegantiin. Intinya bokap gw ga mau seseorang yg salah dibilang benar. Dimaklumi ga papa. Tapi bukan dibenarkan. Dan bokap gw memaklumi kejadian itu dengan berbesar hati, yaitu ga meminta ganti rugi sama sekali. Akhirnya tu bapak2 pulang dengan tangan hampa.

Dari situ gw cuma melongo, memikirkan apa yg sebenarnya terjadi. Memikirkan siapa yg sebenarnya salah.

Agak lama gw mencoba memahami inti kejadian ini. Tapi lama2 gw paham juga. Suatu kesalahan yg tidak disengaja bukan berarti bisa dianggap benar. Tidak tau, tidak sengaja, atau apapun itu, suatu kesalahan adalah suatu kesalahan. Yang benar akan selalu benar dan yg salah akah selalu salah. Cuma bedanya, jika suatu kesalahan itu tidak disengaja, maka sudah sewajarnya dimaklumi. Sekali lagi, dimaklumi. Bukan dianggap benar.

Ternyata banyak kasus2 serupa terjadi di sekitar kita.

Penjaga pintu kereta yg ketiduran, lupa, atau apapun misalnya. Jika terjadi kecelakaan karena kealpaan nya itu, tetap saja dia yg harus dihukum. Padahal ketiduran, lupa, atau apapun itu, sifatnya sangat manusiawi sekali.  Semua orang mengalami nya. Dan tidak ada unsur kesengajaan disana. Tapi tetap saja, masinis kereta, penumpang, atau kendaraan yang lewat ga salah. Yg salah adalah si penjaga pintu kereta. Dan si penjaga pintu kereta lah yang harus menanggung akibat nya. Tapi mengingat sebab kesalahannya itu adalah hal yg sangat manusiawi, maka hukumannya biasanya diringankan. Dalam hukum pasti ada pasal tentang kelalaian yg menyebabkan suatu kecelakaan, dan ada pasal tentang kecelakaan yg disengaja. Dan hukumannya pasti beda beratnya. Kalau mau dicari masih banyak contoh-contoh lain di dunia ini.

Mungkin demikian juga dengan hubungan antar manusia. Lupa janjian, ketiduran, atau apapun itu. Mungkin itu sangat manusiawi. Tapi bagi orang yg sudah janjian sama kita, yg udah nunggu berjam2, apakah dia yg salah? Jawabnya sudah jelas, dia ga salah. Dan kita yg salah. Jadi minta maaf  lah. Minta dimaklumi. Jangan minta diaggap benar.

Dan alangkah baiknya klo kita bisa tidak menjatuhkan hukuman apapun kepada pihak yg ga salah tadi. Alangkah baiknya klo kita bisa memakluminya. Memaafkan ketidaksengajaannya.

Misalnya ada orang yg puasa. Trus dia lupa kalau lagi puasa. Ga sengaja minum atau makan. Apa komentar kita? “Ya udah ga papa, lanjutkan puasanya..” Perhatikan kalimat itu. Itu suatu kalimat memaafkan. Memaklumi. Bukan membenarkan. Mana ada orang yg berkomentar, “Wah itu benar! Lanjutkan puasanya!”.

Bagi gw pribadi, klo gw ada di posisi yg salah, gw pasti akan minta maaf pada pihak yg ga salah. Dan klo gw berada di pihak yg ga salah, gw bersedia memaklumi atau memaafkan pihak yg salah apabila kesalahan itu ga disengaja. Tapi kalau kesalahan itu diulang2 dan disengaja, lain ceritanya.

Tapi ada satu hal yg ga akan pernah gw lakukan. Jika orang yg salah (walaupun ga sengaja) minta dianggap benar dengan cara tidak minta maaf. OK mungkin dia ga sengaja. Tapi gw ga salah juga kan? Ga sengaja bukan berarti jadi benar. Klo pun gw ada di pihak salah walaupun ga sengaja, gw juga ingin minta dimaklumi. Tapi gw ga akan minta dianggap benar. Memaklumi bukan berarti membenarkan.

Itu ga sama..

Be Sociable, Share!

2 Comments

  • Untuk apa manusia diberikan pikiran dan perasaan kalau hanya pikirannya saja yg digunakan.

    • lalu apa hubungannya dengan tulisan diatas? hehe

Leave a comment to ryan